Tampilkan postingan dengan label keamanan jaringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keamanan jaringan. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2017

Penetration Tester Guide : Basic Absolute Untuk Penetration Testing

Selamat datang visitor :)
Sebelum masuk ke materi Penetration Tester Guide, saya akan mengulas sedikit apa itu Penetration Testing. Penetration testing adalah sebuah cara untuk mensimulasikan metode yang bisa digunakan penyerang untuk menghindari kontrol keamanan. Dan mendapatkan hak akses ke dalam sebuah sistem.

Penetration testing ini lebih dari sekedar menjalankan scanner/tools otomatis dan kemudian menyusun laporan bugs. Kamu tidak akan menjadi penetration tester yang ahli dalam semalam. Mungkin waktu bertahun-tahun mempraktikan dan pengalaman di dunia nyata dibutuhkan untuk menjadi ahli.

Saat ini, ada perubahan dalam cara orang menganggap dan menentukan penetration testing dalam industri keamanan. Penetration Testing Execution Standard (PTES) mendefinisikan ulang penetration testing yang akan berpengaruh, baik untuk pemula atau yang berpengalaman. Definisi ini juga sudah disahkan oleh beberapa anggota terkemuka dari komunitas keamanan.

Charter adalah untuk mendefinisikan dan meningkatkan kesadaran tentang penetration testing yang benar. Yang maksudnya membentuk dasar dari prinsip-prinsip dasar yang diperlukan untuk melakukan penetration testing. Jika kamu masih baru dalam hal penetration testing atau belum terbiasa dengan PTES, bisa kunjungi www.pentest-standard.org untuk mempelajari lebih lanjut tentang hal tersebut.



Fase dari PTES





Fase dari PTES ini dirancang untuk menentukan penetration testing dan menjamin organisasi klien tingkat standar dari upaya yang akan dikeluarkan dalam penetration testing oleh siapa saja yang melakukannya. Standar ini dibagi menjadi 7 kategori dengan tingkat yang berbeda tergantung usaha yang diperlukan untuk masing-masing organisasi yang diserang.

1. Pre-engagement Interactions


Interaksi pra-keterlibatan ini biasanya terjadi ketika kamu membahas ruang lingkup dan persyaratan dari penetration testing dengan klien. Hal ini penting kamu sampaikan apa tujuan dari keterlibatan ini selama pra-keterlibatan. Tahap ini juga berfungsi sebagai kesempatan untuk memberitahu secara menyeluruh apa yang bisa diharapkan dari penetration testing ini selama keterlibatan.

2. Intelligence Gathering


Pada tahap ini, kamu akan mengumpulkan informasi apapun yang kamu dapat tentang organisasi klien. Seperti pengumpulan informasi lewat sosial media, Google hacking, footprinting target, dll.

Salah satu keterampilan penting penetration tester adalah memiliki kemampuan untuk mempelajari tentang target. Termasuk bagaimana target berprilaku, beroperasi. dan bagaimana akhirnya bisa diserang. Informasi yang kamu kumpulkan tentang target akan memberikan pemahaman yang berharga tentang jenis kontrol keamanan di tempat.

Selama fase ini juga, kamu mencoba untuk mengidentifikasi mekanisme perlindungan seperti apa yang ada di tempat dan sistem target. Sebagai contoh, sebuah organisasi sering kali hanya akan mengizinkan lalu lintas port bagian tertentu pada perangkat eksternalnya. Dan jika query kamu terdaftar selain dari whitelist, maka kamu akan diblokir. Hal yang sama berlaku ketika kamu menguji aplikasi web. Dimana setelah batas tertentu, aplikasi web firewall akan memblokir kamu dan membuat permintaan lebih lanjut. Agar tetap tidak terdeteksi selama tes, kamu dapat melakukan scan awal dari rentang alamt IP yang tidak dapat dihubungkan kembali kepada kamu.

Notes: “Dalam beberapa kasus, mungkin masuk akal untuk menjalankan very noisy scan dari berbagai IP yang sama sekali berbeda selain yang akan kamu gunakan untuk serangan utama. Ini akan membantu kamu menentukan seberapa baik organisasi merespon alat yang kamu gunakan.“

3. Threat Modeling


Threat modeling ini menggunakan informasi yang kamu peroleh dalam tahap Intelligence Gathering. Lalu informasi tersebut digunakan untuk mengidentifikasi kerentanan yang ada pada sistem target. Ketika melakukan tahap ini, kamu akan menentukan metode yang paling efektif. Tentu, metode serangan ini menggunakan informasi yang sudah kamu peroleh. Lalu mencari cara bagaimana target bisa mungkin untuk diserang. Dan mencoba untuk mengeksploitasi kerentanan seperti apa yang mungkin akan dilakukan penyerang.

4. Vulnerability Analysis


Setelah mengidentifikasi metode serangan yang paling efektif, kamu perlu mempertimbangkan bagaimana akan mengakses target. Selama Vulnerabilty Analysis ini, kamu akan menggabungkan informasi yang sudah kamu dapat dari tahap sebelumnya. Dan menggunakannya untuk mencari serangan yang akan efektif. Seperti memperhitungkan port akun, scan kerentanan, data yang dikumpulkan oleh banner grabbing, dan infromasi yang berhasil didapat selama Intelligence Gathering.

5. Exploitation


Tahap ini mungkin salah satu bagian yang paling glamour dari penetration testing. Namun tahap ini sering dilakukan dengan brute force atau jalur keras dan membabi buta bukan dengan presisi. Mengeksploitasi dilakukan hanya pada saat kamu tahu bahwa pengeksploitasian ini akan berhasil. Tentu saja, mungkin pada saat di tengah perjalanan akan ada sebuah perlindungan yang tak terduga di tempat target. Hal ini pastinya akan menghambat pada saat mengeksploitasi sebelum kamu memicu kerentanan. Kamu harus tahu betul bahwa sistem target itu rentan.

6. Post Exploitation


Tahap ini merupakan komponen penting dalam penetration testing. Disini kamu akan membedakan kamu dengan penyerang. Dalam tahap ini kamu akan menargetkan spesifik sistem target, mengidentifikasi infrastruktur kritis, dan menargetkan informasi/data sensitif yang target telah berusaha amankan. Dalam tahap ini juga kamu akan mengeksploitasi sistem satu demi satu. Lalu mencoba menunjukan serangan yang memiliki dampak besar terhadap target.

Ketika menyerang dalam tahap Post Exploitation, kamu harus meluangkan waktu untuk mengidentifikasi fungsi dari berbagai macam sistem. Dan juga membedakan masing-masing peran user yang berbeda. Misalnya dalam sistem infrastruktur domain kamu menjalankan sebagai admin. Mungkin kamu menjadi superuser terhadap domain tersebut. Tapi bagaimana dengan sistem yang berkomunikasi dengan Active Directory? Bagaimana dengan aplikasi keuangan utama yang digunakan untuk membayar karyawan? Bisakah kamu mengakses sistem tersebut? Lalu bagaimana juga dengan properti intelektual target?

Anggaplah, misalnya, bahwa target adalah sebuah toko pengembangan perangkat lunak yang mengembangkan aplikasi untuk digunakan dalam lingkungan manufaktur. Dapatkah kamu menyisipkan backdoor ke dalam kode sumber mereka atau sistem mereka?

Post Exploitation merupakan salah satu skenario rumit. Di mana kamu harus meluangkan waktu untuk mengolah informasi yang tersedia dan kemudian menggunakan informasi tersebut. Penyerang umumnya akan melakukan hal yang sama dan menghabiskan banyak waktu di sistem seperti ini. Berpikirlah seperti penyerang, beradaptasi dengan cepat, dan mengandalkan akalmu bukan mengandalkan alat bantu auto mated.

7. Reporting


Reporting merupkan elemen yang jauh lebih penting dalam penetration testing. Kamu akan melaporkan apa yang kamu sudah lakukan. Melaporkan bagaimana kamu melakukannya. Dan yang paling penting, melaporkan bagaimana target harus memperbaiki kerentanan yang ditemukan selama penetration testing.

Ketika melakukan penetration testing, kamu akan bekerja dalam titik pandang penyerang. Informasi tang kamu peroleh pada saat tes sangatlah penting. Untuk mencapai keberhasilan program keamanan informasi target. Dan mengantisipasi serangan yang mungkin akan datang. Ketika Reporting juga kamu harus berpikir tentang bagaimana target menggunakan penemuan kamu. Meningkatkan kesadaran, memulihkan masalah yang ditemukan, dan meningkatkan keamanan secara menyeluruh. Bukan hanya menambal kerentanan teknis.

Pada tahap Reporting ini juga kamu akan membagikan laporan kamu ke dalam rangkuman eksekutif, dan pertemuan teknisi. Pada pertemuan teknisi ini juga kamu akan membahas cara untuk memulihkan kerentanan.


Types of Penetration Tests


Sekarang kamu sudah mengetahui pemahaman dasar dari 7 kategori PTES. Sekarang mari kita mengulas 2 jenis utama dari penetration testing: Secara terbuka dan Secara rahasia. Penetration yang dilakukan secara terbuka atau biasa disebut “white hat” test ini dilakukan dengan sepengetahuan penuh dari target. Sedangkan tes yang dilakukan secara rahasia dilakukan untuk mengsimulasikan tindakan penyerang. Tentu tanpa diketahui dan tanpa pemberitahuan. Kedua jenis tes ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

1. Penetration Testing Secara Terbuka


Menggunakan cara ini kamu akan bekerja sama dengan target untuk mengidentifikasi potensi ancaman keamanan. Satu manfaat dari tes secara terbuka ini yaitu kamu akan memiliki akses ke informasi rahasia. Dan dapat melancarkan serangan tanpa takut diblokir. Kekurangan tes secara terbuka ini yaitu tes seperti ini tidak mungkin efektif untuk menguji program respon target. Juga menguji seberapa baik program keamanan target dalam mendeteksi serangan dadakan atau serangan tertentu. Ketika waktu kamu mepet dan tidak bisa melakukan langkah-langkah PTES tertentu, mungkin jenis tes ini pilihan terbaik.

2. Penetration Testing Secara Rahasia


Berbeda dengan metode sebelumnya, tes secara rahasia dilakukan untuk mensimulasikan tindakan penyerang. Pastinya tanpa sepengetahuan target. Tes ini dilakukan untuk menguji kemampuan tim keamanan internal target dalam mendeteksi dan menanggapi serangan.

Namun dengan metode ini akan memakan biaya dan memakan waktu. Dan membutuhkan keterampilan yang lebih daripada tes secara terbuka. Dikalangan para penetration tester, metode ini cenderung lebih disukai. Karena metode ini paling dekat untuk mensimulasikan serangan yang sebenarnya. Tes secara rahasia ini mengandalkan kemampuan untuk mendapatkan informasi dengan pengintaian. Oleh karena itu, dalam metide ini biasanya tidak berusaha untuk menemukan beberapa celah kerentanan besar dalam sistem target. Tapi untuk mencoba menemukan cara termudah agar mendapatkan akses kedalam sistem tanpa terdeteksi.


Vulnerability Scanners


Vulnerability Scanner memainkan peran yang sangat penting dalam penetration testing. Terutama dalam tes secara terbuka. Kekayaan pengetahuan yang di peroleh dalam vulnerability scanner akan menjadi berharga. Namun jangan terlalu mengandalkan tahap ini. Seni dari penetration testing yang sebenarnya adalah hal ini tidak dapat dilakukan secara otomatis. Keberhasilan menyerang sistem mengharuskan kamu memiliki pengetahuan dan keterampilan. Dalam kebanyakan kasus ketika menjadi penetration tester, kamu akan jarang menggunakan vulnerability scanner. Tapi kamu akan bergantung pada pengetahuan dan keahlian untuk mengganggu sebuah sistem.


Pulling It All Together


Jika kamu masih baru dalam penetration testing, atau bahkan belum benar-benar mengadopsi metodologi formal, pelajariah PTES. Seperti dalam percobaan apapun, saat melakukan penetration testing pastikan kamu menjalankan proses yang mulus. Dan tentunya mudah beradaptasi dan lakukan secara berulang. Sebagai penetration tester, kamu perlu memastikan Intelligence Gathering dan Vulnerability Analysis dijalankan sebaik mungkin.


Mungkin, hanya itu dulu materi yang bisa saya sampaikan. Sampai berjumpa di bab selanjutnya.

referensi: https://errorcybernews.com/basic-absolute-penetration-testing/

Konsep Dasar Keamanan Jaringan



KONSEP DASAR KEAMANAN JARINGAN

Keamanan jaringan komputer sebagai bagian dari sebuah sistem informasi adalah sangat penting untuk menjaga validitas dan integritas data serta menjamin ketersediaan layanan begi penggunanya. Sistem harus dilindungi dari segala macam serangan dan usaha penyusupan atau pemindaian oleh pihak yang tidak berhak.

Komputer yang terhubung ke jaringan mengalami ancaman keamanan yang lebih besar daripada host yang tidak terhubung kemana-mana. Dengan mengendalikan network security, resiko tersebut dapat dikurangi. Namun network security biasanya bertentangan dengan network acces, karena bila network acces semakin mudah, network security makin rawan. Bila network security makin baik, network acces semakin tidak nyaman. Suatu jaringan didesain sebagai komunikasi data highway dengan tujuan meningkatkan akses ke sistem komputer, sementara keamanan didesain untuk mengontrol akses. Penyediaan network security adalah sebagai aksi penyeimbang antara open acces dengan security.

Prinsip Dasar Keamanan Jaringan

Prinsip keamanan jaringan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :

  1. Kerahasiaan (secrecy)


Secrecy berhubungan dengan hak akses untuk membaca data ,informasi dan suatu sistem computer. Dalam hal ini suatu sistem komputer dapat dikatakan aman jika suatu data atau informasi hanya dapat dibaca oleh pihak yang telah diberi wewenang secara legal.

  1. Integritas (integrity)


Integrity berhubungan dengan hak akses untuk mengubah data atau informasi dari

suatu sistem komputer. Dalam hal ini suatu sistem komputer dapat dikatakan aman jika suatu data atau informasi hanya dapat diubah oleh pihak yang telah diberi hak.

Contoh : e-mail di intercept di tengah jalan, diubah isinya, kemudian diteruskan ke alamat yang dituju.dengan cara  virus, trojan horse, atau pemakai lain yang mengubah informasi tanpa ijin, “man in the middle attack” dimana seseorang menempatkan diri di tengah pembicaraan dan menyamar sebagai orang lain.

  1. Ketersediaan (availability)


Availability berhubungan dengan ketersediaan data atau informasi pada saat yang dibutuhkan. Dalam hal ini suatu sistem komputer dapat dikatakan aman jika suatu data atau informasi yang terdapat pada sistem komputer dapat diakses dan dimanfaatkan oleh pihak yang berhak.

  1. Authentication


Aspek ini berhubungan dengan metoda untuk menyatakan bahwa informasi betul- betul asli, orang yang mengakses dan memberikan informasi adalah benar orang yang dimaksud, atau server yang kita hubungi adalah server yang asli.

  1. Akses Kontrol


Aspek kontrol merupakan fitur-fitur keamanan yang mengontrol bagaimana user berkomunikasi dengan sistem. Akses kontrol melindungi sistem dari akses yang tidak berhak dan umumnya menentukan tingkat otorisasi setelah prosedur otentikasi berhasil dilengkapi.

PERANCANGAN KEAMANAN JARINGAN

Dalam merencanakan suatu keamanan jaringan, ada beberapa metode yang dapat ditetapkan, metode-metode tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Pembatasan akses pada suatu jaringan

  2. Internal Password Authentication: Password local untuk login ke sistem harus merupakan password yang baik serta dijaga dengan baik.

  3. Server Based password authentication: setiap service yang disediakan oleh server tertentu dibatasi dengan suatu daftar host dan user yang boleh dan tidak boleh menggunakan service tersebut

  4. Server-based token authentication : penggunaan token / smart card, sehingga untuk akses tertentu hanya bisa dilakukan oleh login tertentu dengan menggunakan token khusus.

  5. Firewall dan Routing Control : Firewall melindungi host-host pada sebuah network dari berbagai serangan.



  1. Menggunakan Metode dan mekanisme tertentu

  2. Enkripsi : Proses enkripsi meng-encode data dalam bentuk yang hanya dapat dibaca oleh sistem yang mempunyai kunci untuk membaca data.

  3. Terminologi Kriptografi : Sebuah algoritma kriptografik (cryptographic algorithm), disebut cipher, merupakan persamaan matematik yang digunakan untuk proses enkripsi dan dekripsi.

  4. Terminologi Enskripsi – Dekripsi : Proses yang dilakukan untuk mengamankan sebuah pesan (yang disebut plaintext) menjadi pesan yang tersembunyi (disebut ciphertext) adalah enkripsi (encryption). untuk mengubah ciphertext menjadi plaintext, disebut dekripsi (decryptionü Digital Signature : digunakan untuk menyediakan authentication, perlindungan, integritas, dan non-repudiation

  5. Algoritma Checksum/Hash : Digunakan untuk menyediakan perlindungan integritas, dan dapat menyediakan authentication. Satu atau lebih mekanisme dikombinasikan untuk menyediakan security service



  1. Pemonitoran terjadwal terhadap jaringan


Dengan adanya pemantauan yang teratur, maka penggunaan sistem oleh yang tidak berhak dapat dihindari/cepat diketahui. Untuk mendeteksi aktifitas yang tidak normal, maka perlu diketahui aktifitas yang normal. Proses apa saja yang berjalan pada saat aktifitas normal. Siapa saja yang biasanya login pada saat tersebut. Siapa saja yang biasanya login diluar jam kerja. Bila terjadi keganjilan, maka perlu segera diperiksa. Bila hal-hal yang mencurigakan terjadi, maka perlu dijaga kemungkinan adanya intruder.

Beberapa Langkah dalam perancangan Sistem dengan memperhatikan aspek Keamanan Jaringan :

  1. Menentukan topologi jaringan yang akan digunakan.

  2. Menentukan kebijakan atau policy .

  3. Menentukan aplikasi – aplikasi atau servis-servis apa saja yang akan berjalan.

  4. Menentukan pengguna-pengguna mana saja yang akan dikenakan oleh satu atau lebih aturan firewall.

  5. Menerapkan kebijakan, aturan, dan prosedur dalam implementasi firewall.

  6. Sosialisasi kebijakan, aturan, dan prosedur yang sudah diterapkan.


JENIS-JENIS SISTEM KEAMANAN JARINGAN KOMPUTER

Sebuah jaringan komputer harus memiliki untuk menghindari berbagai macam serangan oleh para hacker/cracker. Bagi para administrator jaringan pun harus jeli dalam menggunakan jenis sistem keamanan yang digunakan. Pada dasarnya jenis keamanan dibagi menjadi 5 jenis, yaitu:

  1. Keamanan fisik


Keamanan fisik lebih ditekankan pada hardware. Hal ini digunakan untuk melindungi hardware tetap dalam kondisi baik untuk melakukan operasi pada jaringan.

  1. Kemanan jaringan


Keamanan jenis ini lebih bertipe ke abstrak. Jadi kemanan ini dilakukan oleh benda yang tidak tampak, baik itu menggunakan software atau perintah lainnya. Contoh pengamanan jaringan adalah dengan menggunakan firewall ataupun proxy yang digunakan untuk mem filter user yang akan menggunakan jaringan.

  1. Otorisasi akses


Otorisasi akses adalah penggunaan password atau kata sandi jika kita ingin mengakses sesuatu di jaringan. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan hanya user tertentu saja yang diperbolehkan untuk mengakses jaringan.

  1. Proteksi Virus


Virus adalah sebuah metode penyerangan sistem komputer dengan menggunakan sebuah program yang dapat membuat sistem kacau dan mengalami kerusakan. Virus sendiri bisa diatasi dengan menginstall antivirus pada komputer dan selalu update databasenya yang terbaru.

  1. Penanganan bencana


Perencanaan bencana adalah Perencanaan langkah-langkah yang akan diambil jika terjadi bencana yang mengakibatkan rusaknya sebuah sistem dan hilangnya data-data penting. Hal ini dimaksudkan agar kerusakan pada sistem lebih cepat teratasi.

DISASTER RECOVERY PLANNING

Disaster recovery plan merupakan sebuah prosedur  penyelamatan dan pemulihan khususnya fasilitas IT dan sistem informasi yang  berisikan tindakan-tindakan konsisten yang harus dilakukan sebelum, selama, dan setelah adanya kejadian (bencana) yang mengakibatkan hilangnya sumber daya sistem informasi.

Menurut Rosenberg (2006:4) ada 10 langkah dalam menjalankan Disaster Recovery Plan, yaitu:

  1. Define key Assets, Threats and Scenarios


Langkah pertama dalam pembuatan DRP adalah mengidentifikasi aset-aset penting organisasi dan dampak apa yang ditimbulkan apabila aset tersebut hilang. Contoh aset yang seharusnya dilindungi adalah E-mail beserta archive, File dan dokumen yang ada di jaringan LAN, Desain dan spesifikasi produk, Employee knowledge, Sistem accounting beserta komponen-komponennya

  1. Determine the Recovery Window


Setelah mengidentifikasi aset yang ada maka berikutnya menentukan “recovery window” yaitu, berapa lama organisasi dapat bertahan tanpa menggunakan sebuah aset. Proses ini dilakukan pada setiap aset yang ada. Semakin cepat dibutuhkannya sebuah aset untuk kembali dapat digunakan, maka akan semakin mahal biaya yang harus dikeluarkan pada proses pemulihannya.

  1. Defining Recovery Solution


Langkah ketiga ini dibuat berdasarkan langkah pertama dan kedua, dimana organisasi menentukan pendekatan dan solusi terbaik yang akan dilakukan setelah mengetahui dampak yang ditimbulkan dari hilangnya setiap aset dan lama waktu pemulihannya. Solusi yang bisa diambil seperti melakukan backup data atau membuat copy data dan disimpan di sebuah lokasi off-site.

  1. Draft a Disaster Recovery Plan


Pada langkah ini berisikan bagaimana organisasi akan melindungi setiap aset dan juga menetukan proses yang akan dilakukan selanjutnya serta cara komunikasi yang akan digunakan selama disaster recovery berlangsung. Lebih jauh lagi langkah ini akan membahas berapa besar kerusakan yang ditanggung dan cara untuk meminimalisasi kerusakan.

  1. Establish a communications plan and assign roles


Langkah ini bertujuan untuk membuat perencanaan komunikasi antar employee maupun dengan customer dan menentukan role dan kewajiban dari setiap anggota tim disaster recovery. Komunikasi harus jelas dan tersedianya informasi kontak yang up-to-date dari setiap anggota tim, serta adanya penentuan chain of command sehingga komunikasi bisa berjalan teratur.

  1. Disaster Recovery Site Planning          


Langkah berikutnya adalah menentukan “recovery site” yaitu, lokasi yang ditujukan sebagai tempat menjalankan sistem yang digunakan dalam disaster recovery. Menentukan recovery site bertujuan untuk menghadapi sebuah situasi dimana data center yang menjadi lokasi utama penyimpanan data tidak dapat diakses

  1. Accessing Data and Applications


Pada langkah ini organisasi menentukan metode untuk mengkases data dan aplikasi pada data center utama. Pemindahan data ke recovery site dapat dilakukan secara manual, yang berarti tim disaster recovery harus segera menuju ke recovery site. Penggunaan metode ini akan memakan biaya transportasi. Metode lain adalah penggunaan web-server, dengan menggunakan metode ini maka sebagian besar tim dapat menggunakan desktop atau laptop untuk mengakses VPN.

  1. Document the Disaster Recovery Plan, in Detail


Pada langkah ini penting untuk membuat planning yang lebih detail untuk dapat melakukan pemindahan data ke recovery site dengan benar. Elemen penting dalam Disaster recovery plan adalah melakukan dokumentasi akan planning bagaimana data akan dikembalikan ke sistem semula setelah data center utama sudah kembali beroperasi, seperti melakukan synchronization data dan re-load server.

  1. Test Disaster Recovery Plan


Melakukan real test bertujuan untuk menyiapkan staff  dalam menghadapi situasi darurat dan juga untuk mencari kesalahan-kesalahan yang terdapat pada DRP. Test baik dilakukan berulang-ulang sesuai dengan perubahan sistem dan proses bisnis organiasi.

  1. Refine and Re-Test the Disaster Recovery Plan


Tahap terakhir adalah melakukan revisi sesuai dengan test yang sudah dilakukan sebelumnya dan melakukan test kedua untuk menguji plan yang sudah direvisi. Langkah ini juga baik dilakukan berulang-ulang  untuk menyesuaikan perubahan.